0 Kegusaran Ketua MK

Jumat, 12 November 2010

Sûřįŷă Ăŧĵěĥ - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md. mestinya bersikap lebih bijak dalam menghadapi opini tentang adanya praktek suap di institusinya. Sudah tepat ia menanggapi masalah ini dengan membentuk tim investigasi. Tapi jangan sampai langkah ini sekadar demi menunjukkan bahwa dugaan itu tak terbukti atau bertujuan menghukum si penulis opini.

Opini yang membuat gusar itu ditulis oleh Refly Harun dan dimuat di sebuah harian pada akhir Oktober lalu. Bertajuk "MK Masih Bersih?", tulisan itu memaparkan indikasi adanya suap buat hakim konstitusi. Mantan staf ahli hakim Mahkamah Konstitusi ini mengaku pernah mendengar langsung bahwa di Papua ada orang yang mengeluhkan sengketa pemilihan kepala daerah. "Ada yang menghabiskan miliaran rupiah untuk MK," tulis Refly mengutip orang itu.

Tersengat tulisan itu, Mahfud kemudian meminta penulis membuktikannya. Ia menunjuk Refly sebagai ketua tim investigasi buat menyelidiki dugaan suap di MK. Tim yang beranggotakan empat orang ini diberi waktu sebulan. Jika penulis tidak bisa membuktikan dugaan itu, Ketua MK berencana melaporkannya ke polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik.

Ancaman itulah yang perlu disesalkan. Ketua MK dan para hakim konstitusi mestinya tak perlu bersikap reaktif terhadap opini yang ditulis di media massa. Ketidaksetujuan terhadap suatu opini mestinya dibalas dengan opini tandingan. Biarlah pembaca yang menjadi hakim terakhir siapa sesungguhnya yang memiliki data dan fakta yang benar. Adu data dan argumen lewat tulisan justru akan lebih memiliki efek yang bagus bagi pemberantasan korupsi.

MK sebenarnya bisa langsung membentuk tim independen untuk menyelidiki dugaan itu tanpa harus membebankan tugas ini kepada penulis opini. Institusi ini juga bisa mengundang Komisi Pemberantasan Korupsi untuk menyelidiki secara diam-diam sinyalemen itu. Cara ini akan lebih efektif karena KPK mempunyai kemampuan dan wewenang menyadap, hal yang tak dimiliki tim investigasi.

Refly jelas tak punya kewajiban membuktikan dugaan itu secara hukum. Ia hanya berkewajiban memberikan kesaksian dan data yang mungkin ia miliki untuk membantu penyelidikan. Tapi, karena penulis telah bersedia menyambut tantangan itu, sikap ini mesti dianggap sebagai bonus.

Apa pun hasil penelusuran tim investigasi tidak bisa dijadikan dasar untuk menjerat penulis dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Sekalipun investigasi itu tidak menemukan bukti yang kuat bahwa telah terjadi praktek makelar kasus di MK, institusi ini tidak otomatis bisa melaporkan Refly ke polisi karena tulisannya.

Menjerat seorang penulis opini dengan tuduhan mencemarkan nama baik justru mencederai kebebasan berpendapat, yang dijamin konstitusi. MK seharusnya justru mengoreksi delik semacam ini karena cenderung disalahgunakan untuk membungkam kritik masyarakat sekaligus melindungi korupsi.


Suriya-Aceh
Sobat Pengunjung Website/Blog Sederhana www.suriya-aceh.co.cc|
Silahkan Kirimkan Donasi Sobat Pengunjung Seikhlasnya Berupa Uang/Pulsa Untuk Perkembangan Website/Blog Ini dan Proses Sebagi Media Informasi Ajang Berbagi Ilmu Pengetahuan Via Rek : 2360073771 ! atau (Klik Gambar Disamping).

Suriya-Aceh
Admin Dibalik Website/Blog Sederhana Ini: Suriya|
Ialah Seorang Yang Sedang Mencoba Belajar Website/Blog dan Belajar Lebih Baik Lagi. Jika Sobat Senang Dengan Isi Dari Website/Blog Ini Pastikan Sobat Pengunjung Untuk Berlanganan Via E-Mail! atau Ambil FEED RSS.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Sobat Pengunjung Ceritakan Tentang Isi Dari Blog Sederhana Ini
Kritik dan Saran Juga Untuk Membenahi Blog Sederhana Ini...!!!
Setitik komentar Anda, dapat membangun Blog ini...

“Semoga Blog Seder Hana Ini Bermanfaat Untuk Kita Semuanya”

Free Gabung Disini

Gabung Disini Free

Ayo Ikutan Disini Free

Ikutan Gabung Disini