0 Sastra Lama: Naskah Sastra Melayu Klasik

Sabtu, 25 Desember 2010

Sastra Lama
Sûřįŷă-Ăŧĵěĥ - Sastra Melayu klasik sering juga disebut sastra Indonesia lama karena ada periodisasi sejarah sastra yang membedakan antara sastra lama dan sastra modern. Jenis sastra ini berkembang sejak abad ke-16 Masehi. Sastra Melayu klasik bermula dari cerita lisan masyarakat secara turun-temurun atau leluri.

Dalam sastra ini, biasanya nama pengarang tidak dikenal (anonim) karena cerita berkembang dari kehidupan masyarakat yang belum pandai dalam hal baca tulis.

Karya-karya yang beredar banyak berupa tuturan. Kemudian, setelah pandai melakukan baca tulis, barulah karya-karya tersebut dituangkan dalam tulisan naskah sastra Melayu klasik.

Pembagian Sastra Melayu Klasik
Sastra Melayu klasik dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan bentuk, isi, dan pengaruh asing. Jenis sastra yang didasarkan pada bentuknya yaitu puisi dan prosa. Puisi dan prosa pun dibagi menjadi dua ketagori, yakni puisi lama dan prosa lama.

Puisi lama adalah jenis puisi yang memperhitungkan segi-segi unsur pembentuknya seperti rima dan bait. Sementara prosa lama adalah cerita yang berkembang di masyarakat di suatu tempat, biasanya berbicara mengenai kehidupan seseorang, asal usul suatu tempat, kepercayaan, dan petuah. Cerita rakyat bersifat anonim, dikenal juga dengan istilah folklore.

Pembagian sastra Melayu klasik berdasarkan isinya meliputi sastra sejarah, sastra undang-undang, dan sastra petunjuk bagi raja atau penguasa.

Sastra sejarah adalah karya sastra yang bebricara mengenai keadaan zaman tertentu. Sastra undang-undang adalah karya sastra yang isinya berbicara mengenai aturan-aturan kehidupan bermasayarkat dan bernegara. Sastra petunjuk bagi raja adalah karya sastra yang dijadikan patokan bagi para raja atau penguasa kerajaan dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Sastra berdasarkan pengaruh asing, di antaranya sastra Indonesia asli, sastra Indonesia lama pengaruh Hindu, dan sastra Indonesia lama pengaruh Islam.

Sastra Indonesia asli yaitu karya sastra yang lahir secara murni dari Indonesia dan mengangkat persoalan-persoalan Indonesia. Sastra Indonesia pengaruh Hindu adalah karya sastra yang muncul setelah masuknya Hindu ke Indonesia dan mempengaruhi dari segi bahasa dan tema. Begitu pun sastra Indonesia pengaruh Islam.

Sastra Indonesia Lama Berdasarkan Bentuknya

Berikut ini merupakan pembagian puisi lama.
1. Mantra, bentuk puisi lama yang kata-katanya mengandung kekuatan gaib, biasa diucapkan oleh dukun, biasa digunakan dalam ritual keagamaan atau untuk menyembuhkan orang sakit.

2. Syair, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris tiap baitnya, dan masing-masing berima sama, yakni a-a-a-a. Contohnya Syair Bidari Lahir.

3. Pantun, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris; dua baris pertama berisi sampiran, dua baris berikutnya adalah isi; berima a-b-a-b atau a-a-a-a.

4. Gurindam, bentuk puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari dua baris yang saling berhubungan. Contohnya, Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.

5. Talibun, bentuk puisi lama yang memiliki sampiran dan isi, terdiri dari 6-12 baris, berima abc, abcd.

6. Karmina, bentuk puisi lama yang terdiri dari dua baris, baris pertama sampiran dan baris kedua adalah isi.

7. Seloka, bentuk puisi lama yang terdiri dari empat baris; berisi petuah, nasihat atau sindiran.

Berdasarkan bentuknya, prosa sebagai karya sastra lama dibagi menjadi beberapa kelompok berikut.
1. Dongeng, berbicara mengenai sesuatu yang belum tentu terjadi, penuh unsur rekaan. Contohnya, Sangkuriang, Malin Kundang, Roro Jonggrang.

2. Legenda, berbicara mengenai asal-usul suatu tempat atau daerah. Misalnya, Tangkuban Perahu, Surabaya, Candi Prambanan.

3. Mitos, berbicara mengenai kepecayaan masyarakat terhadap sesuatu hal biasanya berkaiatan dengan alam gaib atau jin, setan, dan unsur-unsur magis. Contohnya, Ratu Pantai Selatan.

4. Fabel, berbicara mengenai kehidupan dan tingkah laku binatang.

5. Epos, berbicara mengenai kisah-kisah kepahlawanan.

6. Hikayat, berbicara mengenai cerita kehidupan sekitar istana atau anak raja.

7. Tambo, berbicara mengenai sejarah atau silsilah keturunan raja.

8. Wira carita, berbicara mengenai kepahlawanan dan pelakunya seorang yang tangguh, berani, dan berakhir dengan kemenangan.


Sumber yang diambil Admin Suriya-Aceh: www.AnneAhira.com


Suriya-Aceh
Sobat Pengunjung Website/Blog Sederhana www.suriya-aceh.co.cc|
Silahkan Kirimkan Donasi Sobat Pengunjung Seikhlasnya Berupa Uang/Pulsa Untuk Perkembangan Website/Blog Ini dan Proses Sebagi Media Informasi Ajang Berbagi Ilmu Pengetahuan Via Rek : 2360073771 ! atau (Klik Gambar Disamping).

Suriya-Aceh
Admin Dibalik Website/Blog Sederhana Ini: Suriya|
Ialah Seorang Yang Sedang Mencoba Belajar Website/Blog dan Belajar Lebih Baik Lagi. Jika Sobat Senang Dengan Isi Dari Website/Blog Ini Pastikan Sobat Pengunjung Untuk Berlanganan Via E-Mail! atau Ambil FEED RSS.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Sobat Pengunjung Ceritakan Tentang Isi Dari Blog Sederhana Ini
Kritik dan Saran Juga Untuk Membenahi Blog Sederhana Ini...!!!
Setitik komentar Anda, dapat membangun Blog ini...

“Semoga Blog Seder Hana Ini Bermanfaat Untuk Kita Semuanya”

Free Gabung Disini

Gabung Disini Free

Ayo Ikutan Disini Free

Ikutan Gabung Disini