0 Sistem Pemerintahan Belanda, Gert Wilders, dan Indonesia

Rabu, 29 Desember 2010

Sûřįŷă-Ăŧĵěĥ - Negeri Kincir Angin, Belanda, kerap mengundang perhatian dunia internasional. Belanda, selain termashur dengan total football-nya, terkenal ultra liberal. Sistem pemerintahan Belanda yang monarki konstitusional tak lantas berarti konservatif. Belanda justru pelopor penganut paham liberalisme yang (sangat) bebas.

Simak saja ketika Gert Wilders yang membuat kontroversi dengan film. Di sana, kaum gay pun relatif bebas. Sistem pemerintahan Belanda mengakomodasi yang lain lewat payung regulasi dan kultur yang dibangun masyarakat.

Belanda dan Indonesia
Ketika SBY tak jadi berkunjung ke Belanda, sontak jadi headline di media Indonesia dan Belanda. Kala itu, Republik Maluku Selatan (RMS) mengajukan gugatan agar menangkap pemimpin negara Indonesia. Duta besar Indonesia berang bukan kepalang. Di menit-menit terakhir, pemerintah memutuskan untuk menunda kunjungan bersejarah tersebut.

Publik Indonesia mengapresiasi. Menurut pandangan beberapa media, ini soal harga diri dan martabat. Polemik Indonesia dan Belanda tidak sebatas itu. Pengakuan negara berdaulat dan merdeka penuh sempat dipermasalahkan. Hanya berbeda tanggal pengakuan. Indonesia kukuh bahwa 17 Agustus 1945 adalah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Belakangan, Belanda meminta maaf pada Indonesia terkait relasi di masa lampau. Penjajahan, perampasan, dan penyiksaan, pada masa pergolakan kemerdekaan masih membuat luka bagi sebagian orang.

Sistem Pemerintahan Belanda
Negara Belanda terkenal ultra liberal. Sistem pemerintahan Belanda menyokong pakem tersebut. Meski berstatus monarki alias kerajaan, negara ini justru kelewat modern. Mengapa sistem pemerintahan Belanda pantas menyandang sebutan ultra liberal?

• Gert Wilders. Politisi Belanda yang satu ini populer di dunia setelah membuat film Fitna. Dunia geger. Belanda sebenarnya mengadili Gert Wilders terkait aksi tersebut. Namun, sebagian negara menilai Belanda memberi ruang bagi para politisi bertipe demikian. Bahkan, duta besar Indonesia di Belanda mengecam terang-terangan aksi politisi ini.

• Gay. Mungkin Anda pernah mendengar, "Kalau kaum gay mau menikah, ke Belanda saja!" Itu bukan isapan jempol. Di sana, pengakuan pada kaum tersebut ada dan nyata. Meski tidak diterima secara utuh, kaum gay bisa melegalkan pernikahan.

Hikmah
Publik Indonesia terbilang moderat. Sistem pemerintahan di sini mengakomodasi ragam kepentingan. Jika saja di Indonesia berlaku demikian, kelompok masyarakat sudah bereaksi keras. Namun, pengakuan sistem pemerintah Belanda pada yang lain layak diapresiasi. Kita bisa mengikuti pengakuan dalam bentuk dan cara yang berbeda. Indonesia diikat oleh ragam suku, budaya, dan sebagainya. Pengakuan ini mesti dirawat. Unity in diversity.


Sumber yang diambil Admin Suriya-Aceh: www.AnneAhira.com


Suriya-Aceh
Sobat Pengunjung Website/Blog Sederhana www.suriya-aceh.co.cc|
Silahkan Kirimkan Donasi Sobat Pengunjung Seikhlasnya Berupa Uang/Pulsa Untuk Perkembangan Website/Blog Ini dan Proses Sebagi Media Informasi Ajang Berbagi Ilmu Pengetahuan Via Rek : 2360073771 ! atau (Klik Gambar Disamping).

Suriya-Aceh
Admin Dibalik Website/Blog Sederhana Ini: Suriya|
Ialah Seorang Yang Sedang Mencoba Belajar Website/Blog dan Belajar Lebih Baik Lagi. Jika Sobat Senang Dengan Isi Dari Website/Blog Ini Pastikan Sobat Pengunjung Untuk Berlanganan Via E-Mail! atau Ambil FEED RSS.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Sobat Pengunjung Ceritakan Tentang Isi Dari Blog Sederhana Ini
Kritik dan Saran Juga Untuk Membenahi Blog Sederhana Ini...!!!
Setitik komentar Anda, dapat membangun Blog ini...

“Semoga Blog Seder Hana Ini Bermanfaat Untuk Kita Semuanya”

Free Gabung Disini

Gabung Disini Free

Ayo Ikutan Disini Free

Ikutan Gabung Disini