0 Toleransi Artifisial

Kamis, 30 Desember 2010

Sûřįŷă-Ăŧĵěĥ - Tidaklah sulit ketika menoleh ke tahun 2010 yang sudah lalu untuk mengambil kesimpulan bahwa kehidupan umat beragama di Indonesia ada pada titik nadir. Mulai dari kasus ancaman terhadap Ahmadiyah, bahkan penghentian paksa praktek ibadah warga Ahmadiyah di berbagai daerah, sampai tekanan terhadap komunitas-komunitas umat Kristiani. Belum lagi kasus Tanjung Balai, di mana ada tuntutan lucu untuk menurunkan patung Buddha atas nama agama, dan yang terakhir tentunya kejadian hari Natal kemarin di mana jemaat sebuah gereja di Parung dilarang beribadah di gerejanya. Semua peristiwa tersebut berakhir atau masih berjalan tanpa menyentuh akar permasalahan yang ada.

Kondisi ini seharusnya membuat kita bertanya sejauh mana fakta keberagaman di Indonesia didukung oleh apresiasi terhadap nilai kebebasan beragama dan komitmen untuk menjamin hak asasi warga negara untuk beribadah dan berkeyakinan sesuai dengan nurani dan kepercayaan pribadinya. Pertama, pemerintah sering kali tidak hadir dalam mencegah dan menyelesaikan persoalan. Bahkan jalan keluar atau solusi yang ditawarkan oleh pemerintah sering kali justru mengancam fondasi kebebasan beragama itu sendiri. Kedua, meski dikatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat pluralis, ia sering kali berdiam diri terhadap tindakan-tindakan yang bernuansa intoleran tersebut. Apatisme terhadap isu dan kejadian yang melanggar nilai toleransi dapat dianggap sebagai indikasi rendahnya apresiasi terhadap nilai kebebasan beragama.

Fondasi Rapuh
Solusi terhadap ketegangan dalam kehidupan beragama di Indonesia yang diambil oleh pemerintah cenderung meletakkan prinsip harmoni, stabilitas, dan keamanan di atas prinsip kebebasan. Karena itu, tidak aneh jikalau ada kelompok-kelompok yang sering kali mengancam akan “mengambil tindakan” jika aparat gagal “menertibkan”.

Sebagai contoh kasus Ahmadiyah di Nusa Tenggara Barat, yang saat ini sedang terancam akan direlokasi ke sebuah pulau yang letaknya 60 kilometer dari Kota Mataram. Usul ini, menurut Bupati Lombok Barat, diajukan dengan alasan untuk melindungi dan demi kebaikan warga Ahmadiyah. Logika yang sama juga dimiliki oleh Menteri Agama kita ketika dalam sebuah wawancara ia menyatakan dukungannya agar Ahmadiyah dibubarkan demi kebaikan dan keamanan warga Ahmadiyah.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa, demi menjaga situasi stabil, kondusif, dan “harmonis”, pemerintah berani mengambil langkah-langkah yang pada dasarnya mengancam, bahkan melanggar, kebebasan beragama warga negara. Pendekatan seperti ini juga sangat aneh karena, bukannya menertibkan kelompok yang berbuat anarkistis dan mengancam hak konstitusi sesama warga negara, pemerintah malah merepresi orang atau kelompok yang justru hak-haknya sebagai warga negara dilanggar.

Pendekatan seperti ini hanya akan berujung pada situasi kondusif yang semu yang justru mempertahankan dan mengayomi pelanggaran hak-hak warga negara yang mendasar. Bentuk keharmonisan normatif ini harus ditolak dan digantikan dengan keharmonisan yang didasarkan pada kesadaran kolektif untuk mengapresiasi perbedaan dalam bentuk apa pun.

Sekadar Normatif
Permasalahan pendekatan di tingkat elite bukan satu-satunya tantangan bagi kehidupan beragama di Indonesia. Pada tatanan akar rumput mulai juga muncul gejala-gejala yang menunjukkan mulai tumbuhnya sikap intoleran.

Hasil studi SETARA Institute yang belum lama ini dipublikasikan perlu disikapi dengan terbuka sebagai bentuk kritis terhadap kita semua sebagai bangsa. Kesimpulan utama dari studi terbatas ini adalah adanya divergensi sikap di masyarakat Jabodetabek terhadap toleransi. Pada tatanan yang normatif, hasilnya sangat menggembirakan di mana mayoritas masyarakat di Jabodetabek percaya akan pentingnya kebebasan beragama, mendukung kesetaraan antarumat beragama, menolak bentuk-bentuk kekerasan atas dasar agama, dan meyakini bahwa Pancasila masih sangat dibutuhkan.

Namun sikap masyarakat Jabodetabek terhadap hal-hal yang praktis dapat dikatakan mengkhawatirkan. Misalnya, SETARA mencatat bahwa, dalam hubungan privat, ada kecenderungan intoleransi, misalnya terhadap kawin campur agama ataupun adanya anggota keluarga yang pindah agama. Mayoritas masyarakat juga masih belum dapat menerima jika ada rumah ibadah agama lain didirikan di dekat pemukiman mereka, bahkan menolak adanya kebebasan untuk mendirikan rumah ibadah. Perihal isu Ahmadiyah, masih banyak masyarakat yang setuju bahwa kelompok ini sebaiknya dibubarkan atau dibatasi kebebasannya.

Ada dua catatan penting dari hasil studi di atas. Pertama, belum ada pemahaman kolektif tentang apa itu toleransi beragama. Kedua, yang lebih penting adalah pemahaman terhadap toleransi dan kebebasan beragama masih berhenti pada tatanan yang normatif dan belum sampai pada tatanan yang praktis.

Toleransi Sejati
Selain dibutuhkan ketegasan pemerintah yang sudah sering disampaikan oleh banyak pihak, untuk membangun keharmonisan yang berbasis pada apresiasi terhadap perbedaan dan terhadap keberagaman dibutuhkan landasan hukum dan peraturan yang jelas dan tidak kontradiktif seperti yang terjadi saat ini, di mana banyak aturan, misalnya saja SKB Tiga Menteri tentang Ahmadiyah, yang bertentangan dengan semangat kebebasan beragama yang dijamin oleh Konstitusi.

Sementara itu, solusi yang sering kali diambil oleh pemerintah harus diubah. Bukan mendasarkan keharmonisan kehidupan beragama pada pemaksaan dan legalitas formal belaka, yang pada ujungnya hanya menghasilkan keharmonisan normatif, melainkan membangun keharmonisan sosial atas dasar saling menghormati dan apresiasi terhadap kebebasan individu untuk berkeyakinan dan beriman sesuai dengan nuraninya. Ketika ini bisa diterima sebagai kesadaran kolektif, kita akan mampu menjadi bangsa yang percaya diri dan tidak mudah tersinggung oleh kepercayaan dan kehadiran orang yang berbeda agama. Hanya dengan demikian, Indonesia dapat terhindar dari toleransi yang artifisial.


Sumber yang diambil Admin Suriya-Aceh: Silahkan Lihat Saja Di Sini


Suriya-Aceh
Sobat Pengunjung Website/Blog Sederhana www.suriya-aceh.co.cc|
Silahkan Kirimkan Donasi Sobat Pengunjung Seikhlasnya Berupa Uang/Pulsa Untuk Perkembangan Website/Blog Ini dan Proses Sebagi Media Informasi Ajang Berbagi Ilmu Pengetahuan Via Rek : 2360073771 ! atau (Klik Gambar Disamping).

Suriya-Aceh
Admin Dibalik Website/Blog Sederhana Ini: Suriya|
Ialah Seorang Yang Sedang Mencoba Belajar Website/Blog dan Belajar Lebih Baik Lagi. Jika Sobat Senang Dengan Isi Dari Website/Blog Ini Pastikan Sobat Pengunjung Untuk Berlanganan Via E-Mail! atau Ambil FEED RSS.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Sobat Pengunjung Ceritakan Tentang Isi Dari Blog Sederhana Ini
Kritik dan Saran Juga Untuk Membenahi Blog Sederhana Ini...!!!
Setitik komentar Anda, dapat membangun Blog ini...

“Semoga Blog Seder Hana Ini Bermanfaat Untuk Kita Semuanya”

Free Gabung Disini

Gabung Disini Free

Ayo Ikutan Disini Free

Ikutan Gabung Disini